ANAK BINGKISAN PASIR
Aku anak bingkisan pasir
siapa tahu siapa peduli
hidupku jalan angin
mencari ranting yang terbakar
nyawaku lepasan napsu
saat kering air susu hawa
pastikan dalam takdir
duniaku tersapu ombak
Aku anak bingkisan pasir
mencari tahu nafas yang peduli
panas lingkaran bulan
mencari malam yang tak kunjung siang
berdiri ibaku
pada jantungku
tegak, sampai hilang darah api
dan terbelah hati adam
hingga menjelma butiran emas pasirku
aku anak bingkisan pasir
tak ada yang menyentuh apalagi mengantongi
meski samudra menemani
mereka selalu menginjak tawaku
jutaan buih menyambut menangisi
layar kan terdampar di punggungku
salah apa pada butir hina ini
haruskah tiada hitam seluruh badan
apa haram jika seluruh duri berlari
menusuk setiap langkah nelayan
atau para cendikiawan dan wisatawan
mungkin dosa saat anak anak membuat candi bernyawa
berguling mencari awan kenikmatan
dan mencuri setiap hidup nafas karang
hanya saja tak ada yang menjawab
palung tak sampai kulihat
kutunggu ikan tawar terdampar
hanya dia yang menyimpan jawab
aku anak bingkisan pasir
takkan pernah tahu, cukup kucari
ombak yang peduli
sampai lautan tawar
aku anak bingkisan pasir
Ramadan, 06 September 2008
PASAR KECIL DI PINGGIR PANTAI
Saat mentari di tepian bukit
Gumpulan-gumpulan awan kecil menutup sinar
Sorotkan mata pada perahu ombak surat
Saat ember-ember kehidupan penuh tersambut
Anak kecil yang berlari mendayung pasir
Kabarkan bunda, ayah pulang melaut senja
Dan kerumunan kecil menjadi pasar
Di atas pasir
Gelombang sunyi
Dompu-Hu’u, 19-Oktober-2008
Amir Fawas
Sajak Hijau
Kubungkus kau dengan kata
Kutorehkan tinta sajak hijau
Di tengah ladang tembakau
Menghampiri sejuta kicau
Melebur dosa para datu belata
Lepas beban memikul harapan
Di balik bangunan tua
Terngiang suara azan
Langit bisu
Bumi haru
DEBU DINDING BATU
Bagai debu menampar dinding batu
Tengah kerumunan barisan karnivora
Memerah langit menahan sesak awan berarak
Melebur jiwa, kata merangkai
Keluhan angan terasa hambar
Memberi secawan sudut ruang
Angin meniup janji pada pujangga
Teringat kata, kan kurangkai sebuah makna
Sebagai tanda penebus dosa
Sepanjang perjalanan perpisahan
Sesal tertiup angin malam
Memberi sejuk relung jiwa
Hingga terucap
Salam perpisahan, untuk berjumpa
padamu sang pujangga
Terminal Sanggar, 06 agustus 08
Fatih Kudus Jaelani,sedang menyelesaikan study strata satunya di PBSID STKIP Hamzan Wadi Pancor. Bergiat di Komunitas Rumah Sungai.
Amir Fawas,tinggal di Pancor, Lombok Timur. Kuliah PBSID STKIP Hamzan Wadi Pancor.